[Story] About Me : What Should I Do? (Part-1)
Topik Utama : "Pencarian Tujuan Hidup Baru Setelah Sering Digagalkan Keadaan"
*
Jenis Cerita : "Kisah Nyata"
*
Judul Part-1 : "Masa Kejayaan Di Bangku Sekolah"
--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
***
Assallamualaikum, para pengunjung budiman.
Kali ini saya akan bercerita sepenggal kisah kegagalan-kegagalan saya di masa lalu, dan mungkin sekarang pun ketika saya menulis cerita ini saya belum berhasil menemukan tujuan hidup berdasarkan minat dan pashion saya, saya aku ini.
Sebenarnya, saya tidak tertarik menulis ini, namun kadang bisikan untuk menulis cerita ini seakan menarik saya untuk berbagi, walau pun nantinya tidak akan ada yang mau membaca ini dan terkesan membosankan. It's Okay!
Dan kenapa saya memutuskan untuk menulisnya disini!? Ini hanya salah satu cara ketika kamu tidak memiliki seseorang pendengar yang baik untuk menjadi wadah atas cerita kegagalan-kegagalan saya ini, jadi yang saya rasakan, menulis mampu sedikit meredam apa yang ingin saya sampaikan namun tidak mampu saya ungkapkan dalam ucapan. Walau ada beberapa teman dekat yang pernah menjadi wadah dan pendengar setia, namun terkadang saya hanya merasa didengar tanpa merasa adanya kesamaan, sehingga masih ada sebagian kisah yang akan terasa lega jika dituangkan kedalam coretan seperti ini.
Note : Disetiap coretan dalam bentuk story admin akan menggunakan, "Aku atau Saya", untuk memperhalus bahasa, untuk meminimalisir kata tidak baku serta menekankan keformalan cerita ini. Terimakasih.
Cerita Dimulai :
13 Juli 1997, pada saat itu kuyakin kedua orang tuaku amat sangat berbahagia, hari itu hari dimana aku bertemu kedua Malaikat hidupku, hari pertama aku merasakan sentuhan orang yang mencintai dan sangat menantikan kehadiranku. Tangis, mungkin hanya itu yang aku berikan kepada mereka sebagai ungkapan rasa bahagiaku, Ayah Ibu.
*****
Terlahir dari keluarga sederhana, bahkan jauh dari kata mampu, membuatku mengerti arti sebuah perjuangan hidup, perjuangan orangtua mencari nafkah untuk membiayai anak-anaknya, termasuk aku ini yang menyusahkan. Dan tak jarang, Ibu ikut membantu Ayah mencari nafkah untuk biaya hidupku, ini adalah tamparan terkeras dan jujur ini satu-satunya hal yang mampu menarik air mata turun sendiri jika diingat perjuangan beliau yang rela menjadi apa pun untuk membiaya sekolahku. Munkin ada satu kisah yang tidak bisa kutuliskan disini, dan ini adalah salah satu peristiwa yang selalu jadi Mood-booster saat malas ibadah, kerja, belajar, dan kuliah saat ini. *secret
***
Tahun 2002, tahun pertamaku masuk sekolah, tepatnya Taman Kanak-kanak (TK) Al-Ikhlas. Hari yang sangat kutunggu-tunggu setahun sebelumnya, karena saat itu usiaku belum cukup, sehingga ketika tiba waktunya aku sangat bersemangat serta bergembira karena aku bisa berteman dengan orang-orang baru, serta aku bisa menunjukan kebolehanku menggambar, membaca, dan menghitung. Yak, bisa dikatakan saat itu, sebelum aku masuk sekolah TK sku sudah pandai menggambar, menghitung, membaca, dan menulis nama sendiri. Entahlah, dulu Saeful kecil sangat giat dan semangat belajar, setahun sebelum masuk TK kupergunakan untuk belajar dengan kakak perempuanku yang saat itu duduk di jenjang SLTP.
Dulu, aku adalah seorang yang aktif dikelas, tidak pernah malu berbicara didepan umum, selalu menyapa teman baru dari berbagai kampung (Maklum saat itu, TK tersebut satu-satunya diantara 3 kampung tetangga), aku yang selalu bernyanyi walaupun fals, aku yang selalu menjawab pertanyaan guru saat itu, dan masih banyak lagi kelakuan-kelakuan baik dan aktif Saeful kecil.
***
Seteleh beberapa bulan belajar di TK, aku meneruskan pendidikan di jenjang Sekolah Dasar, tahun 2003 tepatnya. Sebagai seseorang yang aktif ditaman kanak-kanak tidak lantas menjadikanku aktif di jenjang SD, entah apa penyebabnya. Aku selalu merasa minder, malu, gugup, dan tidak suka jadi pusat perhatian, drastis bukan?
Di jenjang Sekolah Dasar aku selalu mendapatkan peringkat 3 besar, pernah satu semester mendapat juara 11, penurunan prestasi drastis karena saat itu jam belajar kupergunakan untuk bermain "Super Mario" di console nintendo, hadiah pemberian kakak laki-lakiku karena selalu mendapat peringkat 3 besar.
Dari situ sifat minder dan pemaluku semakin menjadi-jadi, hingga suatu keadaan aku harus pindah sekolah. Di sekolah baru, aku pun sama perlu beberpa bulan adaptasi. Namun, disini prestasiku mulai berkembang kembali.
***
Tahun 2009, setelah lulus di jenjang Sekolah Dasar, akupun melanjutkan ke jenjang SLTP, aku mengambil Negeri saat itu. Dihari pertamaku masuk SMP, terkadang iri melihat teman-temanku diantar sampai gerbang sekolah oleh orang tuanya masing-masing. Aku yang harus berjalan kaki sekitar 400m, lalu menunggu angkot pagi buta agar kebagian tempat duduk, dan merogoh kocek senilai Rp. 1000,- dari Rp. 5000 uang sakuku.
Pernah suatu ketika aku berangkat sekolah, pagi buta dan hujan amat deras, karena saat itu hanya bisa tidak punya kendaraan pribadi, aku tetap memaksakan berangkat sekolah dengan berbekalkan niat, berbekalkan sepotong daun pisang sebagai alat agar buku dalam tasku tidak kebasahan, dengan penuh perjuangan menunggu angkot, angkot yang biasanya tak kunjung tiba, ada sebagian namun penuh tak menyisakan tempat untukku duduk, sehingga aku terus menolak hingga saat mulai putus asa dan mengurungkan niat untuk masuk sekolah, dan terfikirkan untuk bolos saat itu. Tiba-tiba sebuah mobil pribadi berhenti dan membunyikan klaksonnya seakan berbicara, "Nak, ayo sini ikut, saya antarkan!", dan ternyata benar dia adalah orangtua teman sekelasku di kelas VII, Zemy namanya, teman sekaligus rival beratku di kelas VII. (Moment ini takkan terlupakan) :')
Alhamduillah, yang hanya ada dalam hatiku saat itu, akhirny aku tidak kesiangan atau bolos terpaksa. Akhirnya, dengan baju 30% basah aku berlari menghampiri mobil tersebut, sepatu dan kaos kaki basah berkolaborasi dengan dinginnya AC mobil mewah tersebut, itu sudah tidak ku rasakan lagi. Dan ini adalah salah satu bagian hidup yang akan ku ceritakan kepada anak-anakku kelak :)
**
Upacara pertama selesai, semua siswa-siswi baru di arahkan ke kelas masing-masing, dan kebetulan aku mendapat kelas VII H saat itu, ada 10 kelas untuk kelas VII, VIII, dan IX di SMP tempat ku belajar ini, yaitu kelas A sampai J. Akhirnya sesi perkenalan, sesi yang membosankan dan menguji lututku yang selalu gemetaran tak kala harus berbicara di depan kelas.
Selang beberapa minggu aku menemukan banyak teman dekat, yak walapun hanya satu dua, bagiku itu sudah cukup untuk ghibah *hehe becanda. Di kelas pelajaran favoritku adalah IPA, Matematika, dan Teknologi Informasi dan Komunikasi (Tikom), tiga pelajaran yang sangat ku impikan 4x seminggu, dan 3 jam pertemuannya, tapi aku tidak bisa menyalahi kurikulum, kan!?
Singkat perjalanan di jenjang ini, hingga sampai akhirnya aku memasuki fase semester akhir, di kelas IX. Saat di kelas IX, pertama kalinya aku sekelas dengan anak perempuan kembali setelah sek
ian lama semenjak di SD. FYI (For Your Information) di SMP ini dulu menerapkan sistem, kelas VII dan VIII, ke-45 siswanya harus dipisah 5 kelas berisi perempuan, dan 5 kelas berisi laki-laki, dengan aturan A,C,E,G,I adalah kelas full putri *inget gak ada Mba lucinta disini, dan B,D,F,H,J adalah kelas full 45 siswa laki-laki.
Nah, di kelas IX ini hal lucu pertama yang aku alami adalah pacaran dengan teman sekelas, pada zaman itu kita sebut cinta monyet, dia seorang sekretrais galak dan bawel, aku seorang wakil KM yang cupu dan pendiem. Yak, namanya cintamah spontan yak gak bisa dijelasin atau dijabarkan. Yak, tapi cuma 7 hari semenjak pacaran, kemudian putus. Wkwk
*Skip
Di akhir perpisahan SMP, selalu ada sesi pengumuman Peringkat dan Alhamdulillah aku selalu mendapat peringkat ke-1 dari kelas VII sampai IX, pernah juara ke-3 sekali waktu kelas VII semester 2, ini bukan ajang sombong atau apalah itu. Karena sekarang aku sadar, nilai hanya angka dari tinta, yang sekarang dibutuhkan adalah skill diri, jadi buat apa sombong karena nilai?! Yak, memang dulu tak bisa dipungkiri, aku kadang merasa bisa begini-begitu dengan nilai seperti itu, namun sekarang pola fikirku ternyata selama ini salah. :)
Bersambung...
***
Malam ini sepulang dari kampus, karena admin mau beres-beres berangkat ngampus.
Banyak typo, jadi kalo ada yang salah ketik silakan komen.
Wassallamualaikum...
*
Jenis Cerita : "Kisah Nyata"
*
Judul Part-1 : "Masa Kejayaan Di Bangku Sekolah"
--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
***
Assallamualaikum, para pengunjung budiman.
Kali ini saya akan bercerita sepenggal kisah kegagalan-kegagalan saya di masa lalu, dan mungkin sekarang pun ketika saya menulis cerita ini saya belum berhasil menemukan tujuan hidup berdasarkan minat dan pashion saya, saya aku ini.
Sebenarnya, saya tidak tertarik menulis ini, namun kadang bisikan untuk menulis cerita ini seakan menarik saya untuk berbagi, walau pun nantinya tidak akan ada yang mau membaca ini dan terkesan membosankan. It's Okay!
Dan kenapa saya memutuskan untuk menulisnya disini!? Ini hanya salah satu cara ketika kamu tidak memiliki seseorang pendengar yang baik untuk menjadi wadah atas cerita kegagalan-kegagalan saya ini, jadi yang saya rasakan, menulis mampu sedikit meredam apa yang ingin saya sampaikan namun tidak mampu saya ungkapkan dalam ucapan. Walau ada beberapa teman dekat yang pernah menjadi wadah dan pendengar setia, namun terkadang saya hanya merasa didengar tanpa merasa adanya kesamaan, sehingga masih ada sebagian kisah yang akan terasa lega jika dituangkan kedalam coretan seperti ini.
Note : Disetiap coretan dalam bentuk story admin akan menggunakan, "Aku atau Saya", untuk memperhalus bahasa, untuk meminimalisir kata tidak baku serta menekankan keformalan cerita ini. Terimakasih.
Cerita Dimulai :
13 Juli 1997, pada saat itu kuyakin kedua orang tuaku amat sangat berbahagia, hari itu hari dimana aku bertemu kedua Malaikat hidupku, hari pertama aku merasakan sentuhan orang yang mencintai dan sangat menantikan kehadiranku. Tangis, mungkin hanya itu yang aku berikan kepada mereka sebagai ungkapan rasa bahagiaku, Ayah Ibu.
*****
Terlahir dari keluarga sederhana, bahkan jauh dari kata mampu, membuatku mengerti arti sebuah perjuangan hidup, perjuangan orangtua mencari nafkah untuk membiayai anak-anaknya, termasuk aku ini yang menyusahkan. Dan tak jarang, Ibu ikut membantu Ayah mencari nafkah untuk biaya hidupku, ini adalah tamparan terkeras dan jujur ini satu-satunya hal yang mampu menarik air mata turun sendiri jika diingat perjuangan beliau yang rela menjadi apa pun untuk membiaya sekolahku. Munkin ada satu kisah yang tidak bisa kutuliskan disini, dan ini adalah salah satu peristiwa yang selalu jadi Mood-booster saat malas ibadah, kerja, belajar, dan kuliah saat ini. *secret
***
Tahun 2002, tahun pertamaku masuk sekolah, tepatnya Taman Kanak-kanak (TK) Al-Ikhlas. Hari yang sangat kutunggu-tunggu setahun sebelumnya, karena saat itu usiaku belum cukup, sehingga ketika tiba waktunya aku sangat bersemangat serta bergembira karena aku bisa berteman dengan orang-orang baru, serta aku bisa menunjukan kebolehanku menggambar, membaca, dan menghitung. Yak, bisa dikatakan saat itu, sebelum aku masuk sekolah TK sku sudah pandai menggambar, menghitung, membaca, dan menulis nama sendiri. Entahlah, dulu Saeful kecil sangat giat dan semangat belajar, setahun sebelum masuk TK kupergunakan untuk belajar dengan kakak perempuanku yang saat itu duduk di jenjang SLTP.
Dulu, aku adalah seorang yang aktif dikelas, tidak pernah malu berbicara didepan umum, selalu menyapa teman baru dari berbagai kampung (Maklum saat itu, TK tersebut satu-satunya diantara 3 kampung tetangga), aku yang selalu bernyanyi walaupun fals, aku yang selalu menjawab pertanyaan guru saat itu, dan masih banyak lagi kelakuan-kelakuan baik dan aktif Saeful kecil.
***
Seteleh beberapa bulan belajar di TK, aku meneruskan pendidikan di jenjang Sekolah Dasar, tahun 2003 tepatnya. Sebagai seseorang yang aktif ditaman kanak-kanak tidak lantas menjadikanku aktif di jenjang SD, entah apa penyebabnya. Aku selalu merasa minder, malu, gugup, dan tidak suka jadi pusat perhatian, drastis bukan?
Di jenjang Sekolah Dasar aku selalu mendapatkan peringkat 3 besar, pernah satu semester mendapat juara 11, penurunan prestasi drastis karena saat itu jam belajar kupergunakan untuk bermain "Super Mario" di console nintendo, hadiah pemberian kakak laki-lakiku karena selalu mendapat peringkat 3 besar.
Dari situ sifat minder dan pemaluku semakin menjadi-jadi, hingga suatu keadaan aku harus pindah sekolah. Di sekolah baru, aku pun sama perlu beberpa bulan adaptasi. Namun, disini prestasiku mulai berkembang kembali.
***
Tahun 2009, setelah lulus di jenjang Sekolah Dasar, akupun melanjutkan ke jenjang SLTP, aku mengambil Negeri saat itu. Dihari pertamaku masuk SMP, terkadang iri melihat teman-temanku diantar sampai gerbang sekolah oleh orang tuanya masing-masing. Aku yang harus berjalan kaki sekitar 400m, lalu menunggu angkot pagi buta agar kebagian tempat duduk, dan merogoh kocek senilai Rp. 1000,- dari Rp. 5000 uang sakuku.
Pernah suatu ketika aku berangkat sekolah, pagi buta dan hujan amat deras, karena saat itu hanya bisa tidak punya kendaraan pribadi, aku tetap memaksakan berangkat sekolah dengan berbekalkan niat, berbekalkan sepotong daun pisang sebagai alat agar buku dalam tasku tidak kebasahan, dengan penuh perjuangan menunggu angkot, angkot yang biasanya tak kunjung tiba, ada sebagian namun penuh tak menyisakan tempat untukku duduk, sehingga aku terus menolak hingga saat mulai putus asa dan mengurungkan niat untuk masuk sekolah, dan terfikirkan untuk bolos saat itu. Tiba-tiba sebuah mobil pribadi berhenti dan membunyikan klaksonnya seakan berbicara, "Nak, ayo sini ikut, saya antarkan!", dan ternyata benar dia adalah orangtua teman sekelasku di kelas VII, Zemy namanya, teman sekaligus rival beratku di kelas VII. (Moment ini takkan terlupakan) :')
Alhamduillah, yang hanya ada dalam hatiku saat itu, akhirny aku tidak kesiangan atau bolos terpaksa. Akhirnya, dengan baju 30% basah aku berlari menghampiri mobil tersebut, sepatu dan kaos kaki basah berkolaborasi dengan dinginnya AC mobil mewah tersebut, itu sudah tidak ku rasakan lagi. Dan ini adalah salah satu bagian hidup yang akan ku ceritakan kepada anak-anakku kelak :)
**
Upacara pertama selesai, semua siswa-siswi baru di arahkan ke kelas masing-masing, dan kebetulan aku mendapat kelas VII H saat itu, ada 10 kelas untuk kelas VII, VIII, dan IX di SMP tempat ku belajar ini, yaitu kelas A sampai J. Akhirnya sesi perkenalan, sesi yang membosankan dan menguji lututku yang selalu gemetaran tak kala harus berbicara di depan kelas.
Selang beberapa minggu aku menemukan banyak teman dekat, yak walapun hanya satu dua, bagiku itu sudah cukup untuk ghibah *hehe becanda. Di kelas pelajaran favoritku adalah IPA, Matematika, dan Teknologi Informasi dan Komunikasi (Tikom), tiga pelajaran yang sangat ku impikan 4x seminggu, dan 3 jam pertemuannya, tapi aku tidak bisa menyalahi kurikulum, kan!?
Singkat perjalanan di jenjang ini, hingga sampai akhirnya aku memasuki fase semester akhir, di kelas IX. Saat di kelas IX, pertama kalinya aku sekelas dengan anak perempuan kembali setelah sek
ian lama semenjak di SD. FYI (For Your Information) di SMP ini dulu menerapkan sistem, kelas VII dan VIII, ke-45 siswanya harus dipisah 5 kelas berisi perempuan, dan 5 kelas berisi laki-laki, dengan aturan A,C,E,G,I adalah kelas full putri *inget gak ada Mba lucinta disini, dan B,D,F,H,J adalah kelas full 45 siswa laki-laki.
Nah, di kelas IX ini hal lucu pertama yang aku alami adalah pacaran dengan teman sekelas, pada zaman itu kita sebut cinta monyet, dia seorang sekretrais galak dan bawel, aku seorang wakil KM yang cupu dan pendiem. Yak, namanya cintamah spontan yak gak bisa dijelasin atau dijabarkan. Yak, tapi cuma 7 hari semenjak pacaran, kemudian putus. Wkwk
*Skip
Di akhir perpisahan SMP, selalu ada sesi pengumuman Peringkat dan Alhamdulillah aku selalu mendapat peringkat ke-1 dari kelas VII sampai IX, pernah juara ke-3 sekali waktu kelas VII semester 2, ini bukan ajang sombong atau apalah itu. Karena sekarang aku sadar, nilai hanya angka dari tinta, yang sekarang dibutuhkan adalah skill diri, jadi buat apa sombong karena nilai?! Yak, memang dulu tak bisa dipungkiri, aku kadang merasa bisa begini-begitu dengan nilai seperti itu, namun sekarang pola fikirku ternyata selama ini salah. :)
Bersambung...
***
Malam ini sepulang dari kampus, karena admin mau beres-beres berangkat ngampus.
Banyak typo, jadi kalo ada yang salah ketik silakan komen.
Wassallamualaikum...
Comments
Post a Comment