[Story] About Me : What Should I Do? (Part-2)
Judul Part-2 : "Selamat Tinggal SMA IPA, Hallo STM Otomotif"
***
Assallamualaikum... selamat malam para pengunjung budiman, entah siapa pengunjungnya, berasa blog-ghost gini yak, :( sepi pengunjung. Tapi, admin yakin suatu saat blog admin bakal ramai pengunjung, dan ramai iklan-iklan. Aamiin!
Sesuai janji nih, admin akan meneruskan ceritanya sepulang dari kampus, dan pukul 23.49 WIB admin baru sempat meneruskannya, tadi ada acara kumpul bareng teman ospek dulu.
***
Back To Story-2
Sebulan atau beberapa minggu sebelum anak kelas IX lulus dari SMP, banyak dari berbagai nama SLTA yang mempromosikan sekolahnya ke setiap kelas IX di sekolahku, termasuk kelasku. Ada SMA ternama dan favorite, serta ada SMK terfavorite dan masih banyak lagi. Saat itu, kebetulan Wali Kelasku menyampaikan kabar baik bahwa, aku dan kedua temanku mendapat 'Undangan' masuk SMA/SMK favorite tanpa tes, seleksi jalur Undangan saat itu disebutnya.
Senang, tentu jangan ditanya lagi, namun tidak dengan kedua orang tuaku yang sepertinya berbeda pandangan dengan tujuan SLTA ku nanti. Dengan sangat berbahagia ku sampaikan pada orang tuaku bahwa aku bisa masuk SLTA impiankan tanpa test, namun kebahagiaan itu perlahan memudar saat mereka melakukan ucapan halus, seakan mereka melarang dan tidak menyetujui SLTA impianku tersebut, aku paham itu.
Kedua orang tuaku, menyarankanku untuk masuk STM, dengan rekomendasi jurusan 'Otomotif', *WTF moment :') . Kadang aku ingin memberontak dan melawan, namun melihat ucapan mereka yang seakan yakin aku bisa berkembang di STM dan mudah mendapatkan pekerjaan setelah lulus nanti, akhirnya meluluhkan semua impianku, serta membuatku dengan berat hati melipat dan membakar kertas fomulir pendaftaran calon siswa jalur undangan, untuk SLTA impianku. Kecewa, sudah tentu, bodohnya aku saat itu tidak mampu meyakinkan mereka, malah mengiyakan dengan penuh umpatan dan kehancuran, hilang tujuan, semua diluar perencanaan serta tujuan yang sudah aku ekspektasikan.
Dari Sekolah Dasar aku sudah sangat menyukai apapun yang berbau dengan 'Sains', dan itu membuatku bercita-cita menjadi seorang guru SD di bidang pelajaran IPA atau Matematika. Ok, ini sudah ku kubur dalam-dalam melihat SLTA ku pun Otomotif, dan bukan SMA IPA yang selama ini aku impikan. Hanya satu kegagalan? Tidak! Masih berlanjut, disisi lain ketik aku mulai mengenal teknologi dan informasi di jenjang SLTA aku tertarik untuk menjadi ahli IT, namun sayang, impianku menjadi siswa SMK jurusan TKJ pun harus ku kubur dalam-dalam. It's okay, nasi sudah menjadi C6H12O6.
Singkat cerita kemudian, hari penyerahan brosur pendaftaran. Dan saat itu Wali Kelas dan teman-teman dekatku menyayangkan atas keputusanku. Dan mereka tidak menyangka kalau akhirnya aku menjadi calon siswa STM, Otomotif. "It's not you, bro!" Dan ini adalah patah hati pertama yang aku rasakan ketika, melihat senyum dan tawa teman dan rivalku berhasil menjadi calon siswa SLTA pilihan mereka masing-masing, jujur iri saat itu. Yak, tapi sudah sejauh ini. Aku tidak pernah membenci kedua orang tuaku, aku sadar atas latar belakang pendidikan kedua orang tuaku, sehingga mereka malah menyarankan yang terbaik menurutnya dan orang-orang sekitar, bukannya malah mensupportku mengambil SLTA dan jurusan impianku tersebut. Ini murni salahku, tidak mampu meyakinkan mereka. :')
*****
Hari pertamaku daftar dan masuk lingkungan STM, wow! Jujur untuk aku yang cupu dan kutu buku pada masanya, itu merupakan hari yang menegangkan, karena yang ada di fikiran pertamaku adalah STM tempat orang-orang jahat, STM tempat orang-orang tawuran, di STM nanti di palak gak yak!? dan lain sebagainya.
Namun saat, aku mulai bertemu guru di STM kondisi itu perlahan memudar dari benakku, come on myself! Ini tidak seburuk yang aku fikirkan, mari kita nikmati 3 tahun disini dengan penuh warna baru dan diluar agenda SLTA impian. Saeful si Cupu dan si Kutu Buku, welcome di STM. :')
***
Beberapa minggu berlalu aku mengikuti fase-fase terburukku, fase dimana aku harus menikmati dunia teknik otomotif, yang aku sendiri tidak ada hati sedikitpun padanya. Pernah di hari pertamaku praktek kejuruan, seorang Guru bertanya, "Saeful tolong tunjukan ke teman-teman, bagian mana yang disebut 'Karburator Motor'", "Ini, pak! Penuh keraguan (Seraya memegang komponen yang akhirnya ku ketahui itu adalah block-silinder mesin). Seketika, teman-teman sekelas melihatku dengan wajah yang menahan tawanya! Oh, ini adalah kisah pertamaku gagal menjawab pertanyaan dari guru, aku merasa sangat hampa, amat membenci jurusan ini, setiap hari semakin merasa menyesal di jurusan ini. :')
***
Lambat-laun, bulan demi bulan aku lewati, tapi sayang aku tidak mendapatkan skill sedikitpun di bidang ini, keadaan bukan membaik malah semakin memburuk. Hingga tiba saatnya waktuku PRAKERIN (Praktek Kerja Industri a.k.a PKL), ketika teman sekelasku senang dengan uforia ini, aku malah gelisah karena hari itu semakin mendekat, aku takut aku tidak bisa melakukan apapun di tempat PKL nanti.
**
Akhirnya tiba, dengan berbekalkan doa restu orang tua, aku berangkat bersama seorang temanku keluar kota, karena kebetulan tempat PKL ku diluar kota. Sudah gelisah tertimpa tangga, yak maksudnya sudah takut gagal malah PKL jauh dari orang tua, kelar sudah!
Kebetulan saat itu kami berdua PKL ditempat bengkel mobil cukup besar di Kota tersebut, Ciruas-Serang. Alhamdulillah, kami diterima baik oleh para montirnya. Kost-an disedikan oleh pemiliknya, namun kami tidak mendapatkan gajih apapun. It's okay, kita cari ilmu bukan cari upah.
Selama 3 bulan kami PKL disana, namun hal yang aku mampu lakukan cuma hal kecil saja, bahkan aku merasa kalau aku hanya beban di tim montir tersebut. Bahkan, untuk mengganti oli mobil dengan cara masuk ke kolong bawah mobil saja aku pun kadang takut, takut tertimpa dan blablabla fikiran kotorku merasuki kembali. Payah bukan?
Hingga PKL selesaipun aku tidak mendapatkan ilmu yang bisa bermanfaat untuk oranglain, bahkan sekarang pun jika ditanya atau di suruh service mobil atau ganti oli mobil, aku akan dengan lantang berkata "Maaf, saya tidak bisa!". Memang adanya, begitu. Bahkan, omongan atau guyonan "STM kok gak bisa ini, gak bisa itu", sudah menjadi lalaban sehari-hari saat itu. It's Hurt, Baby! Aku merasa gagal dan mengecewakan kedua orang tuaku, namun mereka tidak pernah merasa dikecawakan sedikitpun, always proud and trust me, it's my parent's!
**
Sedikit tambahan, di STM walaupun aku tidak menyukai otomotif, tapi jangan salah 90% pelajaran ku kuasai sangat baik. Ketika nilai akademikku diatas 80 semua, namun nilai kejuruanku selalu bertengger dengan angka 7 koma. Tapi, aku masih beruntung di STM selalu mendapat juara-1. Dan lagi-lagi ini masih membuatku hampa, hambar, serta biasa. Karena, yang orangtuaku percayakan adalah aku mampu menguasai pelajaran produktif, namun hasil akhirnya aku hanya pandai di teorinya saja, serta pandai di pelajaran yang nota benenya pelajaran anak SMA, seperti Matematika, IPA, IPS, Kimia, Fisika, dan lainnya. (Jika kalian melihat ini sebuah kesombongan, saya minta maaf ini hanya kebenaran dalam cerita tanpa sengaja bertingkah terlihat sombong bahkan niat menyombongkan diri)
Di STM aku banyak ikut organisasi dan kegiatan, seperti : OSIS, di OSIS pernah menjabat sebagai wakil ketua, dan lagi-lagi inipun bujukan dari teman dekatku yang saat itu akan menjadi calon ketua OSIS, karena kufikir aku hanya akan menjadi beban, aku yang pemalu yang saat itu bahkan untuk berbicara di depan umum saja membuat lutut berguncang 7.2 SR. Lambat-laun dia merubahku, perlahan-lahan aku bisa berbicara di depan orang banyak, dan itu pun hanya berbicara ketika meminta sumbangan ketika ada siswa yang mengalami musibah. Selebihnya, aku hanya figuran dan pajangan di organisai, entah apa yang ketua OSIS cari dari karakter wakil ketua sepertiku.
Semasa STM, aku juga suka mengisi mading dengan cerpen, puisi, serta artikel yang aku copas dari komputer warnet menjadi tulisan tangan kedalam selembar folio. Tak jarang, aku megikuti berbagai perlombaan sastra tingkat kecamatan SMK, dan selalu kalah. ^-^
**
Di penghujung semester XII, aku mengikuti perlombaan "Olimpiade Sains Terapan Nasional Kimia", tingkat kabupaten. Dan mungkin karena pesertanya sedikit, dan aku beruntung saja, akhirnya berhasil menyabet juara-3. Yak, itu piala pertamaku selama menimba ilmu di jenjang SLTA. Disini kadang bayang-bayang menjadi siswa SMA muncul kembali, konyol memang di akhir-akhir semester pun aku masih merasakan penyesalan tersebut. (Inipun salah satu bagian bukan untuk menyombongkan diri sendiri, ini admin tulis sebagai alur kejadian dari cerita, jadi mohon maaf jika pembaca tidak menyukainya)
---
Bersambung..
****
01.18 WIB, alhamdulillah part-2 selesai.
Cerita akan admin terusakan besok atau ketika ada waktu luang, karena besok masuk kerja lagi.
Terlepas ada yang baca ataupun tidak, itu bukan masalah, saya tidak dibayar untuk ini, dan saya tidak mendapat nilai dari dosen atas isi blog ini, saya menyukai setiap ketukkan jari saya di atas keyboard laptop, sehingga ini menjadi pengingat saya suatu saat, saya menyukai bidang ini, saya ikhlas melakukan ini, terkesan lebay untuk seorang laki-laki seperti saya, bukan masalah! Hidup bukan untuk selamanya terlihat sempurna di mata oranglain, kan?!
Selamat Malam...
Wassallamualaikum...
***
Assallamualaikum... selamat malam para pengunjung budiman, entah siapa pengunjungnya, berasa blog-ghost gini yak, :( sepi pengunjung. Tapi, admin yakin suatu saat blog admin bakal ramai pengunjung, dan ramai iklan-iklan. Aamiin!
Sesuai janji nih, admin akan meneruskan ceritanya sepulang dari kampus, dan pukul 23.49 WIB admin baru sempat meneruskannya, tadi ada acara kumpul bareng teman ospek dulu.
***
Back To Story-2
Sebulan atau beberapa minggu sebelum anak kelas IX lulus dari SMP, banyak dari berbagai nama SLTA yang mempromosikan sekolahnya ke setiap kelas IX di sekolahku, termasuk kelasku. Ada SMA ternama dan favorite, serta ada SMK terfavorite dan masih banyak lagi. Saat itu, kebetulan Wali Kelasku menyampaikan kabar baik bahwa, aku dan kedua temanku mendapat 'Undangan' masuk SMA/SMK favorite tanpa tes, seleksi jalur Undangan saat itu disebutnya.
Senang, tentu jangan ditanya lagi, namun tidak dengan kedua orang tuaku yang sepertinya berbeda pandangan dengan tujuan SLTA ku nanti. Dengan sangat berbahagia ku sampaikan pada orang tuaku bahwa aku bisa masuk SLTA impiankan tanpa test, namun kebahagiaan itu perlahan memudar saat mereka melakukan ucapan halus, seakan mereka melarang dan tidak menyetujui SLTA impianku tersebut, aku paham itu.
Kedua orang tuaku, menyarankanku untuk masuk STM, dengan rekomendasi jurusan 'Otomotif', *WTF moment :') . Kadang aku ingin memberontak dan melawan, namun melihat ucapan mereka yang seakan yakin aku bisa berkembang di STM dan mudah mendapatkan pekerjaan setelah lulus nanti, akhirnya meluluhkan semua impianku, serta membuatku dengan berat hati melipat dan membakar kertas fomulir pendaftaran calon siswa jalur undangan, untuk SLTA impianku. Kecewa, sudah tentu, bodohnya aku saat itu tidak mampu meyakinkan mereka, malah mengiyakan dengan penuh umpatan dan kehancuran, hilang tujuan, semua diluar perencanaan serta tujuan yang sudah aku ekspektasikan.
Dari Sekolah Dasar aku sudah sangat menyukai apapun yang berbau dengan 'Sains', dan itu membuatku bercita-cita menjadi seorang guru SD di bidang pelajaran IPA atau Matematika. Ok, ini sudah ku kubur dalam-dalam melihat SLTA ku pun Otomotif, dan bukan SMA IPA yang selama ini aku impikan. Hanya satu kegagalan? Tidak! Masih berlanjut, disisi lain ketik aku mulai mengenal teknologi dan informasi di jenjang SLTA aku tertarik untuk menjadi ahli IT, namun sayang, impianku menjadi siswa SMK jurusan TKJ pun harus ku kubur dalam-dalam. It's okay, nasi sudah menjadi C6H12O6.
Singkat cerita kemudian, hari penyerahan brosur pendaftaran. Dan saat itu Wali Kelas dan teman-teman dekatku menyayangkan atas keputusanku. Dan mereka tidak menyangka kalau akhirnya aku menjadi calon siswa STM, Otomotif. "It's not you, bro!" Dan ini adalah patah hati pertama yang aku rasakan ketika, melihat senyum dan tawa teman dan rivalku berhasil menjadi calon siswa SLTA pilihan mereka masing-masing, jujur iri saat itu. Yak, tapi sudah sejauh ini. Aku tidak pernah membenci kedua orang tuaku, aku sadar atas latar belakang pendidikan kedua orang tuaku, sehingga mereka malah menyarankan yang terbaik menurutnya dan orang-orang sekitar, bukannya malah mensupportku mengambil SLTA dan jurusan impianku tersebut. Ini murni salahku, tidak mampu meyakinkan mereka. :')
*****
Hari pertamaku daftar dan masuk lingkungan STM, wow! Jujur untuk aku yang cupu dan kutu buku pada masanya, itu merupakan hari yang menegangkan, karena yang ada di fikiran pertamaku adalah STM tempat orang-orang jahat, STM tempat orang-orang tawuran, di STM nanti di palak gak yak!? dan lain sebagainya.
Namun saat, aku mulai bertemu guru di STM kondisi itu perlahan memudar dari benakku, come on myself! Ini tidak seburuk yang aku fikirkan, mari kita nikmati 3 tahun disini dengan penuh warna baru dan diluar agenda SLTA impian. Saeful si Cupu dan si Kutu Buku, welcome di STM. :')
***
Beberapa minggu berlalu aku mengikuti fase-fase terburukku, fase dimana aku harus menikmati dunia teknik otomotif, yang aku sendiri tidak ada hati sedikitpun padanya. Pernah di hari pertamaku praktek kejuruan, seorang Guru bertanya, "Saeful tolong tunjukan ke teman-teman, bagian mana yang disebut 'Karburator Motor'", "Ini, pak! Penuh keraguan (Seraya memegang komponen yang akhirnya ku ketahui itu adalah block-silinder mesin). Seketika, teman-teman sekelas melihatku dengan wajah yang menahan tawanya! Oh, ini adalah kisah pertamaku gagal menjawab pertanyaan dari guru, aku merasa sangat hampa, amat membenci jurusan ini, setiap hari semakin merasa menyesal di jurusan ini. :')
***
Lambat-laun, bulan demi bulan aku lewati, tapi sayang aku tidak mendapatkan skill sedikitpun di bidang ini, keadaan bukan membaik malah semakin memburuk. Hingga tiba saatnya waktuku PRAKERIN (Praktek Kerja Industri a.k.a PKL), ketika teman sekelasku senang dengan uforia ini, aku malah gelisah karena hari itu semakin mendekat, aku takut aku tidak bisa melakukan apapun di tempat PKL nanti.
**
Akhirnya tiba, dengan berbekalkan doa restu orang tua, aku berangkat bersama seorang temanku keluar kota, karena kebetulan tempat PKL ku diluar kota. Sudah gelisah tertimpa tangga, yak maksudnya sudah takut gagal malah PKL jauh dari orang tua, kelar sudah!
Kebetulan saat itu kami berdua PKL ditempat bengkel mobil cukup besar di Kota tersebut, Ciruas-Serang. Alhamdulillah, kami diterima baik oleh para montirnya. Kost-an disedikan oleh pemiliknya, namun kami tidak mendapatkan gajih apapun. It's okay, kita cari ilmu bukan cari upah.
Selama 3 bulan kami PKL disana, namun hal yang aku mampu lakukan cuma hal kecil saja, bahkan aku merasa kalau aku hanya beban di tim montir tersebut. Bahkan, untuk mengganti oli mobil dengan cara masuk ke kolong bawah mobil saja aku pun kadang takut, takut tertimpa dan blablabla fikiran kotorku merasuki kembali. Payah bukan?
Hingga PKL selesaipun aku tidak mendapatkan ilmu yang bisa bermanfaat untuk oranglain, bahkan sekarang pun jika ditanya atau di suruh service mobil atau ganti oli mobil, aku akan dengan lantang berkata "Maaf, saya tidak bisa!". Memang adanya, begitu. Bahkan, omongan atau guyonan "STM kok gak bisa ini, gak bisa itu", sudah menjadi lalaban sehari-hari saat itu. It's Hurt, Baby! Aku merasa gagal dan mengecewakan kedua orang tuaku, namun mereka tidak pernah merasa dikecawakan sedikitpun, always proud and trust me, it's my parent's!
**
Sedikit tambahan, di STM walaupun aku tidak menyukai otomotif, tapi jangan salah 90% pelajaran ku kuasai sangat baik. Ketika nilai akademikku diatas 80 semua, namun nilai kejuruanku selalu bertengger dengan angka 7 koma. Tapi, aku masih beruntung di STM selalu mendapat juara-1. Dan lagi-lagi ini masih membuatku hampa, hambar, serta biasa. Karena, yang orangtuaku percayakan adalah aku mampu menguasai pelajaran produktif, namun hasil akhirnya aku hanya pandai di teorinya saja, serta pandai di pelajaran yang nota benenya pelajaran anak SMA, seperti Matematika, IPA, IPS, Kimia, Fisika, dan lainnya. (Jika kalian melihat ini sebuah kesombongan, saya minta maaf ini hanya kebenaran dalam cerita tanpa sengaja bertingkah terlihat sombong bahkan niat menyombongkan diri)
Di STM aku banyak ikut organisasi dan kegiatan, seperti : OSIS, di OSIS pernah menjabat sebagai wakil ketua, dan lagi-lagi inipun bujukan dari teman dekatku yang saat itu akan menjadi calon ketua OSIS, karena kufikir aku hanya akan menjadi beban, aku yang pemalu yang saat itu bahkan untuk berbicara di depan umum saja membuat lutut berguncang 7.2 SR. Lambat-laun dia merubahku, perlahan-lahan aku bisa berbicara di depan orang banyak, dan itu pun hanya berbicara ketika meminta sumbangan ketika ada siswa yang mengalami musibah. Selebihnya, aku hanya figuran dan pajangan di organisai, entah apa yang ketua OSIS cari dari karakter wakil ketua sepertiku.
Semasa STM, aku juga suka mengisi mading dengan cerpen, puisi, serta artikel yang aku copas dari komputer warnet menjadi tulisan tangan kedalam selembar folio. Tak jarang, aku megikuti berbagai perlombaan sastra tingkat kecamatan SMK, dan selalu kalah. ^-^
**
Di penghujung semester XII, aku mengikuti perlombaan "Olimpiade Sains Terapan Nasional Kimia", tingkat kabupaten. Dan mungkin karena pesertanya sedikit, dan aku beruntung saja, akhirnya berhasil menyabet juara-3. Yak, itu piala pertamaku selama menimba ilmu di jenjang SLTA. Disini kadang bayang-bayang menjadi siswa SMA muncul kembali, konyol memang di akhir-akhir semester pun aku masih merasakan penyesalan tersebut. (Inipun salah satu bagian bukan untuk menyombongkan diri sendiri, ini admin tulis sebagai alur kejadian dari cerita, jadi mohon maaf jika pembaca tidak menyukainya)
---
Bersambung..
****
01.18 WIB, alhamdulillah part-2 selesai.
Cerita akan admin terusakan besok atau ketika ada waktu luang, karena besok masuk kerja lagi.
Terlepas ada yang baca ataupun tidak, itu bukan masalah, saya tidak dibayar untuk ini, dan saya tidak mendapat nilai dari dosen atas isi blog ini, saya menyukai setiap ketukkan jari saya di atas keyboard laptop, sehingga ini menjadi pengingat saya suatu saat, saya menyukai bidang ini, saya ikhlas melakukan ini, terkesan lebay untuk seorang laki-laki seperti saya, bukan masalah! Hidup bukan untuk selamanya terlihat sempurna di mata oranglain, kan?!
Selamat Malam...
Wassallamualaikum...
Comments
Post a Comment